Kerja di Luar Negeri = Banyak Duit?
Pindah ke Luar Negeri Tidak Otomatis Jadi Kaya
Sejak pindah ke Amerika ada satu pertanyaan yang paling sering gue terima dari teman, kenalan, bahkan keluarga:
“Wah, sekarang pasti banyak duit ya?”
Setelah posting video “Pengalaman Kerja di Amerika Bagian 3”, pertanyaan itu muncul lagi. Kali ini di Facebook.
Aha… jadi teringat. Gue tidak pernah membahas ini.
Pertama. Wajar sih orang Indonesia, apalagi yang belum pernah ke negara dengan tingkat ekonomi tinggi, berpikir seperti itu. Karena tidak tahu keadaan. Tidak tahu apa yang terjadi.
Masalah perspektif.
Dari luar, tinggal di negara dengan ekonomi lebih tinggi memang sering diasosiasikan dengan “sukses” dan “kaya”. Apalagi kalau pendapatannya dalam dolar dan dikonversi ke rupiah. Kerja di perusahaan besar. Beli mobil buatan Amerika, atau Eropa. Karena, dilihat dari Indonesia semua itu adalah parameter orang banyak duit.
Tapi jawaban jujurnya: nggak juga.
Gaji Besar ≠ Uang Sisa
Iya, secara angka, gaji di Amerika terlihat besar. Tapi hidup di sini juga dibayar pakai dolar. Gaji dolar, pengeluaran dolar. Beda kalau gaji dolar, pengeluaran rupiah. Gue juga pengen kalo itu mah atuh!
Pengeluaran gue di sini termasuk sewa tempat tinggal, asuransi kesehatan, pajak, transportasi, biaya sekolah, sampai hal-hal kecil yang di Indonesia terasa sepele, karena ada keluarga yang bantu. Sekarang semuanya jadi mahal. Bayar sendiri. Gak ada yang bantu. Orang sering mengonversi pendapatan gue ke rupiah, tapi pendapatannya doang yang dihitung, lupa menghitung dan mengkonversi pengeluaran.
Bayangin ini deh, gaji untuk penduduk San Jose, kota tempat gue tinggal sebelum pindah ke LA, agar mampu beli rumah, harus minimal $300,000 setahun. Berarti Rp 5.031.300.000 setahun, atau Rp 419,275,000 sebulan.
Hahaha.
Edan.
Belum pajak. Sinting. Di California, penghasilan gue yang secuil (dibandingkan standar kehidupan), harus bayar pajak penghasilan senilai gaji manajer kelas menengah di Jakarta. Setiap bulan.
Jadi gaji besar tidak otomatis berarti berduit. Tiap gajian (biasanya dua minggu sekali), gaji masuk ke rekening, lima menit kemudian wuuuuuuuush… hilang semua dipakai bayar tagihan.
Hidup sebagai Imigran: Mulai dari Nol
Kecuali lo anak orang kaya. Ya beda lagi lah ceritanya.
Hal lain yang sering luput dari pembicaraan adalah realitas hidup sebagai imigran. Kalau belum pernah jadi imigran, gak akan kebayang sih memang. Tapi kenyataannya mayoritas orang Indonesia tidak datang ke luar negeri dengan kondisi sudah mapan. Tapi mulai dari nol.
Gue gak tahu ya gimana cara paling efektif nerangin hidup mulai dari nol di negara orang lain itu gimana. Tapi mungkin yang paling gampang, gue hidup di Amerika mulai dari mengurus surat-surat agar gue bisa tinggal di sini secara legal. Jika dibandingkan dengan hidup di Indonesia, mungkin hampir setara dengan orang baru lahir dan mendapat akta kelahiran. Bedanya, ada dua. Orang lahir itu punya orang tua yang bayarin segala macam keperluan. Makan aja disuapin. Dan, orang punya akta kelahiran itu langsung jadi warga negara. Lah gue… Udah tua, pendatang pula.
Jadi boro-boro lah keren-kerenan seperti bayangan orang yang di Indonesia.
Karir berarti harus di-reset. Pengalaman kerja dan ijazah dari Indonesia = preeeeet! Tidak diakui. Kita membangun ulang hidup, dari nol. Dan membangun hidup dari nol itu punya sifat yang khas: prosesnya berjalan pelan.
Perlu jadi perhitungan juga, tidak ada yang namanya safety net yang datang dari keluarga. Jadi kalau kepepet gak bakal ada yang bantu, ya mampus aja. Tidak ada orang tua yang bisa dimintai tolong, tidak ada saudara yang bisa dititipi anak, tidak ada jaringan sosial yang otomatis siap membantu.
Jadi kalau di Indonesia safety net-nya adalah keluarga, di sini ya uang. Lo punya penghasilan, ya aman.
Tapi Lalu, Kenapa Tetap Pindah?
Nah ini. Jawabannya bukan uang. Tapi kualitas hidup. Dan kualitas hidup, buat gue, sangat berkaitan dengan akses, misalnya:
Akses ke pendidikan yang baik.
Akses ke sistem publik yang berfungsi.
Akses ke peluang jangka panjang.
Akses ke air dan udara bersih.
Banyak lagi…
Karena tinggal di California, anak gue punya akses untuk melanjutkan pendidikan di universitas negeri kelas dunia, seperti University of California. Ini bukan soal kami kaya, tapi soal sistem yang memungkinkan.
Di sini, universitas negeri bisa bersaing dengan kampus top dunia. Beneran dunia, bukan “going international” versi Indonesia (punya paspor bisa pergi ke luar negeri = going international). Dan, walaupun tidak murah, aksesnya tidak eksklusif hanya untuk orang super kaya. Gue juga bisa ngirim anak sekolah di situ. Mahasiswa dari luar negeri yang belajar di Amerika, bisa bayar 2-3 lipat dibanding dengan mahasiswa yang residen Amerika.
Jadi gue mengejar definisi “Kaya” yang Berbeda
Pindah ke luar negeri mengubah cara gue memaknai kata “kaya”.
Kaya bukan cuma soal saldo rekening. Tapi,
Soal stabilitas.
Soal opsi yang tersedia untuk anak.
Soal waktu, ruang berpikir, dan rasa aman jangka panjang.
Gue mungkin tidak merasa lebih kaya secara finansial. Tapi kualitas hidup gue dan keluarga gue lebih baik.
Dan buat gue, itu hasil yang masuk akal.
Penutup
Pindah ke luar negeri tidak otomatis membuat seseorang kaya. Atau sekedar banyak duit. Banyak yang justru hidup lebih keras dari sebelumnya.
Tapi dalam kasus gue, pindah ke California memberi sesuatu yang lebih penting: akses dan kualitas hidup yang lebih baik.
Jadi, mata uangnya beda.
Definisi “kaya”-nya juga beda.


