Dari Tukang Cuci Piring ke Meta
Darah, keringat, dan tangis: perjalanan gue kerja di Amerika
Beberapa waktu terakhir gue bikin video tentang perjalanan kerja gue sejak pindah ke Amerika. Nulis postingan ini terasa sama beratnya dengan bikin videonya.
Kenapa?
Karena ini bukan cerita sukses. Ini cerita tentang kerja, bertahan, dan belajar pelan-pelan nerima hidup apa adanya di negara baru.
Sebelum Amerika
Di Indonesia, gue hampir nggak pernah kerja di lingkungan korporat. Paling cuma dua kali: di City Surf dan Volcom. Selebihnya, hidup dan kerja yang fleksibel dan gak terlalu birokratis. Freelancing, consulting, part-timing, dan bikin usaha sendiri. Makanya yang ngikutin gue sebelum pindah ke Amerika, lo bisa lihat gue travel kemana-mana. Ya karena tidak terikat dengan komitmen untuk kerja di perusahaan.
Tapi di Amerika, kenyataan hidup gue beda banget.
Di sini, semua kerjaan gue selalu terkait sistem besar: korporasi, pabrik, atau gudang. Karena sejak mulai tinggal di sini, rasanya seperti langsung ditodong dengan kewajiban bayar sewa apartemen. Gak sempat napas lah istilahnya. Wilayah tempat yang gue pilih untuk hidup, harganya mahal. Termasuk jajaran paling mahal di Amerika (hidup di San Jose lebih mahal dari hidup di new York). Jadi $2,500 sebulan untuk apartemen studio (tanpa kamar) itu hitungannya murah banget untuk standar San Jose, kota tempat gue tinggal sebelum pindah ke LA. Dan biasanya persyaratan untuk dibolehkan sewa apartemen adalah punya penghasilan dua hingga tiga kali lipat dari harga sewa. Jadi minimal, penghasilan gue sekeluarga yang tinggal di apartemen dengan rate segitu adalah $7,500 per bulan. Gue milih tempat ini karena ingin ngasih lingkungan yang baik untuk anak gue semasa bersekolah. Tentunya sesuatu yang baik, pasti ada harganya.
Awal yang Sangat Dasar
Kerja pertama gue di Amerika adalah jadi tukang cuci piring di kantor Adobe, San Francisco. Beneran. Serius.
Kantornya sih keren banget! Tapi kerjaan guegak keren sama sekali haha. Badan basah kuyup dan bau setan. Tapi, setidaknya itu kerjaan jujur, meski bayarannya hanya minimum wage. Semua pakai ijin dan legal. Sesuai aturan hukum setempat. Dan saat itu, yang penting bukan jabatan, tapi mulai aja dulu. Karena gue bener-bener gak ngerti keadaan di sini. Hitungannya, ini pertama kali gue ke Amerika, dalam artian ngerasain hidup di sini. Sebelumnya gue pernah ke sini, ke Austin bulan Maret 2018 untuk menghadiri SXSW, tapi beda banget jadi tamu dan jadi residen.
Okay. Jadi, kerjaan ini cuma untuk tiga hari. Emang cuma segitu durasi assignment-nya. Gue dapat kerjaan lewat agensi kekaryawanan. Banyak banget organisasi sejenis di sini yang kerjasama dengan perusahaan yang mencari karyawan untuk jangka pendek.
Keuntungannya adalah, gue bisa dapat kerjaan tanpa harus mengirim lamaran kerja ke perusahaan, yang divisi rekrutmen dan sumber daya nya terbatas. Lewat agency, mereka yang melakukan seleksi dan jika mendapat penawaran dari perusahaan yang mencari karyawan, agency akan bantu memuluskan jalan. Prosesnya biasanya juga lebih cepat dan gak terlalu bertele-tele, kecuali perusahaan gede banget dan untuk jabatan tertentu.
Setelah itu, gue coba kerja jadi sales untuk AT&T, di tempatkan Costco. Waduh, AT&T itu termasuk penyedia jasa selular yang tidak punya reputasi baik. Terutama di Bay Area. Meski yang gue jual adalah produk internet rumahan, bukan selular, orang yang mendengar brand AT&T banyak yang malah menyampaikan keluhan. Jualan produk dari merk yang punya reputasi seperti itu sulit banget.
Ini pekerjaan gue yang kedua. Sementara itu gue masih harus beradaptasi dengan cara hidup di sini. Jadi terlalu banyak yang harus diatasi. Akhirnya setelah dua hari, gue yakin kerjaan tersebut bukan buat gue. Gak pakai pikir panjang, gue kirim email resign di kereta dalam perjalanan pulang.
Dua kerjaan pertama ini ngajarin gue satu hal penting: bahwa nggak semua kerjaan yang berakhir cepat itu kegagalan personal. Kadang ya memang nggak cocok aja. Kadang sistemnya memang begitu.
Fase Bertahan: Gudang dan Kerja Fisik
Abis itu, hidup masuk fase bertahan. Makin gila.
Di tahap ini gue kerja di Trove Recommerce (kerja di gudang), Amazon (kerja di pusat distribusi), Lucky Supermarket (kerjaan gudang dan retail), Protein Simple (kerjaan gudang dan inventory pabrik) Tesla (kerja di pabrik) dan satu pabrik makanan dan satu perusahaan distribusi minuman soda (yang gue lupa namanya saking tidak berkesan). Semuanya kerja lewat agency, kecuali Lucky Supermarket. Di Trove dan Tesla, setelah kerja lewat agency tiga bulan, gue diangkat derajatnya jadi karyawan tetap. Jadi bisa dapat benefit seperti cuti berbayar, asuransi jiwa, kesehatan, potongan pajak dan lain sebagainya.
Kerjaan gudang itu repetitif, capek, dan gak ngasih ruang buat mikir. Jadi kuli aja intinya. Kerja kasar. Kualifikasinya badan kuat ngangkat, ngedorong, motong, dan lain sebagainya. Meski kemampuan fisik tidak pernah jadi unggulan, gue harus kerja. Bukan buat karier, atau apa lah, boro-boro. Cuma buat bertahan hidup. Begitu pula dengan kerjaan di distribusi maupun pabrik. Yang paling brutal secara fisik sih tetap: juaranya kerjaan pabrik. Kerja di pabrik Tesla itu asli babak belur. Makanya mayoritas karyawannya masih di early twenties, atau late teen. Jadi badannya masih kuat!
Banyak pabrik di sini yang beroperasi 24 jam mengadopsi DuPont Shift. Intinya seminggu kerja 3 hari, 4 hari libur. Di minggu berikutnya kerja 4 hari, 3 hari libur. Satu shift-nya? 12 jam. Serius, 12 jam gak berhenti (kecuali break 2x10 menit dan 1x 30 menit untuk makan).
Itu capek banget man. Anjing lah, gila. Gue ditempatkan di berbagai divisi, dari merakit kursi sampai perbaikan pintu mobil setelah mobil selesai di rakit. Gak banyak drama, kerjaannya sibuk banget. Brutal. Demi membayar tagihan.
Di sini gue pertama kalinya benar-benar ngerasain kerja di dalam sistem industri raksasa. Target, ritme, tekanan. Semuanya jalan terus. Sialnya waktu gue kerja di sana, Tesla sedang ngejar orderan yang sudah terlambat tiga sampai enam bulan, karena terbatasnya persediaan dan supply elemen untuk merakit mobil secara global. Jadi kerjanya ngebuuuuuuuttt…!
Gue sempat keluar, kerja di beberapa gudang, lalu balik lagi ke Tesla dan bertahan sekitar setahun setengah, sampai suatu hari gue dapat tawaran kantoran.
Sempat ijin kerja gue kadaluarsa. Waktu itu masa COVID. Banyak karyawan imigrasi yang dipecat. Jadi proses pembaruan visa, ijin kerja dsb terhambat. Biasanya kalau pemerintahan dikuasai konservatif, aturan imigrasi selalu diacak-acak.
Sebagai imigran, gue sadar bahwa perjalanan kerja hampir bisa dipastikan berliku-liku. Salah satu kelemahan kualifikasi gue adalah gue dulu gak sekolah di sini. Makanya kerja fisik juga ya ditelan saja.
Fase Kerja intelektual di YouTube: Mulai mendekat ke dunia gue di Indonesia
Setelah Tesla, gue kerja di YouTube. Masih korporat, tapi auranya beda. Lebih dekat ke dunia kreatif yang gue pahami, walaupun tetap berada di dalam sistem besar. Ini semacam fase transisi, antara kerja fisik dan kerja berbasis pengetahuan. Gue resmi masuk ke “laptop class”.
Di sini gue melihat sisi gelap internet: video berisi orang telanjang, politisi dan komentar rasis dari sayap kanan, makian, dan segala macam yang tidak senonoh. Tugas gue menemukan scene yang mengandung elemen yang tidak senonoh, agar advertiser nggak kecolongan. Jadi misalnya brand yang target pasarnya anak-anak, iklannya tidak keluar di video yang isinya konten sensual. Kadang video bisa berdurasi lima menit, tapi ada juga yang berdurasi sepuluh jam.
Di laptop class, kerjaan ini tingkat stress-nya tinggi. Karena gue terekspos ke konten tak senonoh secara rutin sepanjang hari. Orang yang kerja di bidang ini biasanya diberi trainer khusus, semacam psikolog, yang ngecek kesehatan jiwanya secara rutin. Tidak sedikit orang yang kena penyakit mental di bidang ini.
Tapi daripada kerjaan fisik, gue lebih baik di kerjaan ini. Sayangnya semuanya berakhir karena lay off di tahun 2023. Semua perusahaan teknologi besar termasuk Google mengurangi karyawan. Dan gue salah satu yang kena.
Setback: Jadi Supir
Di fase ini badan gue mulai protes. Tapi sekitar 2023-2025 itu sulit banget dapat kerjaan. Mungkin gue sudah mengirim lamaran ke 500 perusahaan. Tiap hari rutin browsing website lowongan kerja, networking dan kirim lamaran. Gue dapat interview dan tawaran kerja (salah satunya di Tiktok, kerjaannya mirip dengan YouTube), tapi gak ada yang sesuai dengan keadaan gue waktu itu. Kejauhan lah lokasi kantornya, terlalu rendah lah gajinya, atau terkadang, istilahnya di ghosting oleh perusahaan di tahap seleksi.
Yang paling gampang ya jadi supir. Udah deh gue nyupir. Pindah-pindah, gimana ada job untuk ngantar barang. Ini kerjaan part-time, tapi sehari bisa 10-12 jam di jalan untuk nyupir minimal 100 mil untuk mengantar barang. Gue jabanin tuh semua sudut wilayah San Fransico Bay Area, dari mulai Santa Cruz di selatan banget, terusssss ke atas Morgan Hill, San Jose, Cupertino, Palo Alto, Menlo Park, San Mateo sampai San Fransisco, atau jalur timur dan ke kota seperti Fremont, Union City, San Leandro, Hayward, Oakland, Berkeley, teruuuus sampai utara ke Concord, Richmond, dan Vallejo.
Di sini badan gue bener-bener “ngomel”. Capeknya sebenernya bukan cuma secara fisik, tapi akumulasi kerja fisik dan mental. Gue gak pernah mengerti dampaknya, karena dulu di Indonesia sakit mental tidak terlalu populer, karena biasanya orang depresi gak di urusi, istilahnya, depresi gak dianggap penyakit serius. Tapi gue harus bertahan di sini, jadi harus lanjut kerja, dan bekerja dengan baik sesuai aturan, meski dalam keadaan depresi.
Tapi pelan-pelan, semuanya ngerusak badan. Akumulasinya adalah gue sampai sakit jantung.
Sekarang: Kerja di Meta dari Rumah
Suatu hari gue di tengah perjalan nyupir, gue dapat email dari recruiter, katanya Meta AI sedang cari orang dengan kualifikasi seperti gue. Gue balas, “okay!” Dan akhirnya email-emailan. Prosesnya lama dan persyaratannya bukan cuma lulus interview. Tapi ijasah di cek, terutama untuk ijasah internasional yang di dapat di luar Amerika, terus harus punya tiga kerjaan yang terbukti bayar pajak, dan banyak lagi. Beberapa perusahaan yang pernah gue kerja di double cek. Perusahaan seperti Google dan Meta memang punya persyaratan administrasi yang rumit, karena mereka ingin memastikan orang yang kerja di sana tidak merepotkan secara administrasi di masa depan. Jadi sama seperti kerja di YouTube, prosesnya kali ini juga tidak mudah. Dari email pertama sampai gue mulai kerja, total sekitar lima bulan. Tapi akhirnya mulai juga, dan dari supir, gue balik lagi ke laptop class.
Meta menganut jadwal hybrid. Biasanya karyawan kerja dua hari dari rumah dan tiga hari dari kantor. Awalnya gue kebagian jadwal hari Senin dan Selasa kerja dari rumah, sisanya di kantor. Tapi sebelum kena serangan jantung, keadaan fisik gue semakin lemah, jadi gue minta akomodasi khusus. Pemerintah federal mensyaratkan perusahaan untuk memberi modifikasi khusus untuk pekerja yang tidak bisa kerja seperti orang normal karena keterbatasan fisik. Tujuannya agar orang cacat bisa mendapat kesempatan kerja dan bersaing dengan orang normal. Dengan penyakit yang gue punya (gangguan ginjal, jantung, liver, dan mata), gue masuk persyaratan untuk mendapat akomodasi khusus.
Jadi gue dikasi ijin untuk kerja di Meta, dari apartemen gue di Los Angeles.
Kerja remote ngasih gue sesuatu yang sebelumnya nggak pernah gue punya: ruang dan waktu untuk pemulihan. Gue bisa kerja sambil mengatur kegiatan yang memperbaiki kesehatan, ritme hidup, dan tentunya bernapas lega. Bukan berarti semuanya beres dan tokcer. Tapi ini fase yang lumayan stabil. Semoga bisa bertahan lama.
Sekali lagi ini bukan cerita kesuksesan. Gue nulis ini bukan buat motivasi kosong. Bukan “from zero to hero” dan omong kosong lainnya.
Ini cerita tentang kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru di negara orang, kemauan untuk bertahan hidup, dan menerima kalau kerja itu bagian dari hidup, tapi bukan identitas.
Kalau lo juga imigran, lagi ganti karier, atau sedang di fase “bertahan”, lo nggak sendirian. 🙏
Untuk versi visual dari cerita ini, gue ceritain semua di Instagram Reels di bawah.
Bagian 1:
Bagian 2:
Bagian 3:
Terima kasih sudah baca. Sampai jumpa di cerita berikutnya yesss!
—






