Lolos dari Serangan Jantung Akut
Iya. Gue kena serangan jantung.
Waktu itu gue antar anak gue ke San Diego karena dia sudah mulai kuliah dan tinggal di dorm yang lokasinya di dalam kampus UC San Diego. Dalam perjalanan pulang ke San Jose, rasa sesak di dada yang sudah gue rasakan selama 3-4 minggu sebelumnya terasa lebih intens. Biasanya gue minum obat penahan rasa sakit, tapi kali ini tidak mempan. Rasa sakitnya tidak hilang. Keesokan paginya, gue menyerah. Karena sakitnya udah gak bisa tertahan. Akhirnya gue telepon primary care gue (dokter umum) dan setelah mendengar keluhan gue, dia menyarankan untuk segera ke Emergency Room (UGD) di rumah sakit terdekat.
Sesampai di ER, gue pingsan di kursi roda dan seorang suster mendorongnya ke sebuah ruangan, di mana 6-7 orang sudah menunggu. Segera pakaian gue dipreteli diganti dengan gaun rumah sakit, dan badan gue dipasangi berbagai macam selang dan dibawa ke sebuah ruangan penuh peralatan. Gue gak ingat apa yang terjadi di ruangan itu kecuali gue muntah beberapa kali dan mereka memasang kateter di badan. Setelah itu gue dibawa lagi ke ruangan lain. Di situ, seorang ahli bedah mendatangi istri gue dan bilang, “Telepon dan kabari keluarga kalian. Tampaknya dia tidak bisa diselamatkan”, tak lama, seorang pekerja sosial, yang tugasnya mengurusi administrasi pasien dan pihak luar, juga mendatangi istri gue dan meminta menandatangani formulir akta kematian. Istri gue menolak. “Nanti dulu”, katanya. “Kalau dia sudah berhenti bernafas, baru gue tandatangan”.
Suasana sangat tegang hingga seorang suster senior ditugaskan untuk mengawasi gue datang bertanya, “Dalam skala 1-10, seberapa sakit dada mu?”. Gue jawab “9,5!”. Sakit banget, gak tahan deh anj#$%@ lah! Sang suster langsung bergegas meninggalkan ruangan dan kembali tak lama kemudian membawa suntikan. Gue disuntik morfin. Tampaknya dosis tinggi, karena gak sampai 2 menit gue tidak merasa sakit lagi dan bisa berbicara dengan lancar menjawab pertanyaan suster. Karena gue masih dalam suasana bahagia baru melihat anak gue mulai kuliah, gue juga jadi cerita ngalor-ngidul cita-cita gue untuk menyekolahkan anak di Amerika dengan berimigrasi ke negara Paman Sam. Suster dan semua yang ada di ruangan sampai terheran-heran. “Saya baru lihat pasien yang datang ke ER dalam keadaan tidak bisa bernafas dengan lancar, dalam 3 jam bisa bercerita panjang dan detil seperti kamu”, katanya. Iya, soalnya gue gak mau mati. Nggak mau mati hari itu. Gue ingat dalam perjalanan ke ER, tujuan gue adalah untuk sembuh.
Konyolnya, malam itu The Prodigy ada konser di San Fransisco. Gue sudah lama berencana untuk nonton dan sudah punya tiket. Ini kedua kalinya gue berusaha nonton mereka. yang pertama di bulan April 2025. Tapi konser mereka di The Warfield, SF, dibatalkan. Karena Liam sakit. Jadi ketika mereka datang lagi, gue langsung beli tiket. Sempat terpikir di benak gue siang itu, “Nanti selesai mereka ngeberesin masalah sakit dada ini, gue bisa langsung ke SF nonton The Prodigy. Yes!”. Gue gak tahu ternyata gue kena serangan jantung akut.
Di saat kritis, keluar hasil diagnosa awal. Jadi jantung gue tersumbat total, dan karenanya jantung gue gak bisa menyalurkan darah dan oksigen ke liver dan ginjal. Sehingga kedua organ tersebut tidak berfungsi dan memperparah keadaan. Makanya ahli bedah jantung yang mendatangi istri gue tadi menyerah, dia tidak mau melaksanakan operasi dalam keadaan gue seperti itu. Selain itu ternyata gue mengalami anemia akut (kurang darah). Jadi sebelum memutuskan jantung gue musti diapain, keadaan gue harus distabilkan dulu dengan menambah darah dan melakukan prosedur cuci darah, karena ginjal gue tidak mampu melakukannya. Maka di leher gue dipasang kateter untuk dialisis. Sakit banget rasanya karena selang yang panjang dan besar itu dan dipaksa masuk ke pembuluh darah. Kemudian darah gue dicuci semalaman.
Keesokan harinya di ICU keadaan gue masih belum stabil dan darah masih dicuci sampai hari berikutnya, keadaan tubuh gue sudah sedikit lebih stabil. Ahli jantung yang menangani kasus gue datang dan menjelaskan keadaan gue. Kemudian dia memberi 3 pilihan untuk langkah berikutnya:
Diperasi. Resikonya 40% gagal dan gue mati.
Dipasangi stent (biasa di Indonesia disebut ring). Resikonya 10% gagal.
Pulang ke rumah. Resikonya 100% mati.
Dari ketiga pilihan tersebut tentunya gue milih yang kedua. Gue dan istri segera menandatangani pernyataan setuju agar dokter bisa melaksanakan prosedur. Catatan dari prosedur ini, rencananya dokter akan memasang ring, dan sebuah alat picu jantung untuk memastikan jantung gue berjalan setelah prosedur selesai. Harga pemicu jantung ini sama dengan harga sebuah sedan mewah di Jakarta. Dan karena keadaan liver dan ginjal gue yang masih tidak stabil, dokter merasa hanya memiliki waktu kurang dari lima menit untuk memasang kedua alat tersebut di jantung gue.
Singkat cerita gue di bawa ke ruang operasi. Beberapa perawat sudah menunggu di sana dan gue dipindahkan ke meja operasi. Mereka mempersiapkan prosedur dan ada beberapa dokter juga di sana, selain dokter jantung. Yang gue ingat ada dokter spesialis darah dan spesial anestesi. Sisanya gak ngerti. Setelah perawat selesai memperisiapkan gue diserahterimakan dan dokter anestesi segera mendekat sementara asistennya memasang seperangkat alat di seputar nadi tangan kanan gue. Dia berdiri di situ dan menjelaskan langkah apa saja yang akan dia lakukan. Yang gue ingat dia bilang, “Pak Robin, saya akan suntikkan obat ke dalam nadi Anda. Prosedur ini tidak membutuhkan bius total, jadi Anda akan tetap terjaga” Gue yang… “Okay.” Kemudian dia menekan jarum suntiknya dan… gue terlelap. Tak lama gue bangun, dan beberapa dokter yang terakhir gue lihat sedang bersiap, tengah berbenah. Salah satu dari mereka melihat gue bangun, langsung menyapa, “Selesai Pak!”. Gue yang, “Ini selesai bersiap, atau selesai prosedurnya?”. “Sudah selesai prosedurnya", katanya. Gue yang… “Okay”. Tak lama gue dibawa kembali ke ruang ICU.
Di ICU gue masih dirawat dan diawasi oleh beberapa dokter, Gue dengar beberapa perawat ngegosip bahwa dokter jantung gue menelpon ruang ICU jam 3 pagi marah-marah, karena dia ternyata mengawasi keadaan gue dari rumah dan melihat salah satu alat pengawas tidak berfungsi. Gila sampai segitu dedikasinya, pantesan mahal banget tarif dokter di Amrik. Setelah melihat keadaan gue semakin stabil keesokan harinya, dokter melepas alat pemicu jantung. Tanpa dibius, jadi ditarik aja gitu geblek, sakit banget. Tapi jantung gue ternyata masih berdetak. Dan gue hidup sampai sekarang.
Gue dipindahkan ke ruang biasa keesokan harinya dan boleh pulang setelah tinggal di rumah sakit selama 10 hari.
Satu momen yang tidak akan pernah gue lupakan adalah ketika gue dibawa masuk ke ruang operasi. Di situ gue mikir, “Anjing ya. Jadi udah ini teh, gue bakal mati?”, memang kemungkinannya hanya 10% dan gue percaya dokter yang menangani sangat mampu. Tapi saat itu berbagai perasaan datang berurutan: bingung, takut, sesal, dan lega. Bingung karena gue masih belum percaya gue sampai di momen seperti itu. Takut karena gue gak mau mati. Sesal karena gue merasa masih banyak yang belum gue capai selama hidup, terutama melihat anak gue lulus kuliah. Lega karena gue pikir, jika ini akhir hidup gue, ya sudah lah.



