Dari "Distorsi" ke "Distribusi"
Dari Puppen ke Los Angeles - tentang medium yang berubah, tapi semangat yang tidak pernah padam.

Apakah Gue Berhenti Berkarya?
Beberapa hari lalu gue di-tag Arian di Instagram.
Instagram Story dari Omuniuum. Kilasan panggung: Arian, Ucok, Azi, manggung di acara Balcony di IFI Bandung. Mereka bawain “United Fist”. Buat yang ngikutin Puppen, pasti tahu ini lagu kolaborasi Puppen dan Homicide, yang dirilis di album Puppen MKII. Lagu yang lahir dari satu fase penting dalam hidup gue.
Gue re-post story itu. Dan seperti biasa, DM mulai masuk. Setiap kali gue posting sesuatu tentang Puppen, selalu ada respon. Ada nostalgia. Ada cerita. Ada yang bilang, “Kang, itu lagu nemenin SMA gue.” Atau, “Masih gue puter sampai sekarang.” Gue selalu menikmati momen itu. Bukan karena merasa dapat pengakuan, tapi karena ternyata karya lo punya umur panjang.
Tapi ada satu DM yang bikin gue berhenti sebentar.
“Ayo berkarya lagi Kang Robin.”
Yang menarik, ini bukan respon terhadap Puppen.
Ini respon terhadap story lain, studio kecil gue di apartemen di Los Angeles. Tempat gue literally “berkarya” tiga bulan terakhir. Tempat yang gue impikan bertahun-tahun: punya studio sendiri di rumah. Bebas bikin apa saja, kapan saja. Dan DM itu bikin gue mikir.
Apakah gue berhenti berkarya?
Kalau Berkarya Itu Harus Band?
Selama 10 tahun (1992–2002), hidup gue cuma satu: Puppen. Sisanya nongkrong, manjangin rambut, merokok, dan hidup sepenuhnya di skena.
Itu fase yang sangat jujur. Sangat mentah. Sangat hidup.
Tapi setelah Puppen bubar 2002, hidup gue justru makin “brutal”, dalam arti produktif. Di antaranya:
Gue pindah kota berkali-kali: Bandung – Bali – Bandung – Bali – Jakarta – Lembang – lalu Amerika. Di Amerika gue tinggal di Seattle, San Jose, dan sekarang Los Angeles.
Gue membangun empat perusahaan di bidang musik, digital marketing, distribusi digital, travel.
Gue bantu dua band sign ke Sony Music. Rilis album untuk 1 band. Bawa dua band disponsori Volcom. Satu disponsori Insight.
Gue kerja sama dengan 600 band dan mendistribusikan karya mereka ke 100 negara lewat Spotify, Deezer, Nokia Music, YouTube.
Gue dapet penghargaan internasional dari British Council sebagai Young Creative Entrepreneur. Masuk jaringan alumni dari 24 negara.
Gue jadi pembicara di 9 negara. Diundang datang ke 30 festival dan konferensi musik di berbagai belahan dunia termasuk Australia, Inggris, Jerman, Cina, Perancis, Korea Selatan, Malaysia dan Taiwan .
Bicara di event PBB seperti World Urban Forum di musik panel pertama masuk agenda Sustainable Development Goal. Diundang ke Music Cities Convention di Melbourne dan Brighton.
Jadi penasihat Bekraf untuk kota Ambon. Membuat 2 konferensi musik untuk Pemerintah Kota Bandung.
Gue kuliah lagi. Diberikan gelar Sarjana Seni (Bahasa) dan Master of Management (Kewirausahaan).
Di Amerika gue udah kerja di Tesla, Amazon, Google, Meta.
Gue bikin 118 video YouTube. Nulis 200.000 kata di berbagai blog.
Sekarang lagi bangun media project sendiri, podcast, video journal — ruang gue membedah musik, industri, dan hidup sebagai imigran Asia di California.
Dan di tengah semua itu, anak gue lahir. Tumbuh. Sekarang kuliah di universitas nomor 3 di California dan nomor 6 di Amerika.
Kalau lo lihat daftar itu secara objektif?
Gue justru jauh lebih produktif berkarya setelah Puppen bubar.
Medianya Berubah. Bukan Semangatnya.
Yang berubah cuma mediumnya.
Dulu: Distortion. Panggung kecil. Kaset. Zine.
Sekarang: Website. WordPress. YouTube. Podcast. AI. Digital distribution.
Dulu gue bikin lagu. Sekarang gue bikin platform.
Dulu gue bikin band. Sekarang gue bikin ekosistem.
Dan mungkin karena itu gak semua orang melihatnya sebagai “berkarya”.
Karena bagi sebagian orang, Robin = Puppen.
Kalau gak bikin band, berarti gak berkarya. Padahal buat gue, berkarya itu bukan format.
Berkarya adalah pola pikir dan sikap hidup.
Puppen Sebagai Pondasi
Gue gak akan pernah menyangkal: Puppen adalah fondasi. Di sana gue belajar semuanya.
Belajar bikin album.
Belajar manage project.
Belajar teamwork.
Belajar manajemen.
Belajar jualan.
Belajar survive di industri yang keras.
Awalnya cuma mimpi sederhana: Gue dan Marcell pengen punya album. Ketika Arian masuk, dia juga punya visi yang sama.
Gue gak pernah menyangka 22 tahun setelah bubar, masih ada yang ingat.
Absurd kalau dipikir. Tapi nyata.
Dan gue beruntung bisa ketemu orang-orang seperti Arian, Andry, Abay, Ajo, Prima, dan semua mantan personel Puppen lainnya. Tanpa mereka, gak ada pondasi. Tanpa pondasi itu, mungkin gue gak akan pernah berani pindah negara. Gak akan berani bikin perusahaan. Gak akan berani ngomong di forum internasional. Gak akan berani bikin media sendiri.
Jadi, Apakah Gue Berhenti Berkarya?
Kalau definisinya cuma bikin band dan manggung?
Mungkin iya.
Tapi kalau definisinya mencipta, membangun, menyampaikan gagasan, memproduksi sesuatu yang berdampak
Gue belum berhenti.
Dan sejujurnya, gue gak pernah merasa sekreatif ini sebelumnya. Studio kecil di LA itu bukan nostalgia. Tapi bab baru.
Bukan kembali ke masa lalu. Tapi menyatukan semua yang gue pelajari sejak 1992 sampai hari ini. Dan kalau suatu hari gue bikin musik lagi? Itu bukan karena gue “balik berkarya”.
Tapi karena gue memang gak pernah berhenti.



