Nonton Ghost Tanpa Handphone
Kebijakan no-phone, tiket parkir yang bikin rugi, dan salah satu konser terbaik seumur hidup
Beberapa bulan lalu, Ghost ngerilis album keenam, Skeletá. Tiga single pertamanya langsung bikin gue senyum sendiri. Lebih matang, lebih well-written, produksinya lebih padu. Gak heran sih, tapi bisa dibilang album ini istimewa.
Gue sudah nonton mereka dua kali sebelumnya.
2013, Download Festival di Inggris.
2022, Anaheim, waktu Pre-Impera Tour.
Perbedaan produksi live keduanya jauh banget. Yang di Anaheim bisa dibilang masuk daftar 10 konser terbaik yang pernah gue tonton.
Ada satu pola yang selalu terjadi setiap habis nonton Ghost: rahang gue pegal karena kebanyakan senyum. Band yang branding-nya “satanik” ini justru bikin orang bahagia. Ironis, tapi nyata. Gue yakin gue bukan satu-satunya yang ngerasain itu.
Waktu mereka ngumumin tur Amerika Utara untuk Skeletá, harusnya sih no brainer. Tapi ada satu hal yang bikin gue mikir dua kali: no phone policy.
Ini bukan pertama kali. Tobias mulai kebijakan ini sejak produksi film konser Rite Here Rite Now. Alasannya klasik: pengalaman jadi lebih immersive.
Secara konsep gue ngerti. Tapi secara personal? Gue gak setuju 100%.
Gue selalu ambil sedikit foto atau video. Bukan sekedar buat pamer di Instagram. Tapi itu cara gue menyimpan memori. Sampai sekarang gue masih sering nonton ulang footage konser bertahun-tahun lalu. Ini penting buat gue.
Dan ada satu masalah yang lebih serius: gue pakai continuous glucose monitor yang connect ke iPhone via Bluetooth. Gue pantau gula darah 24 jam. Itu bukan pilihan gaya hidup. Tapi kebutuhan medis.
Akhirnya gue sempat memutuskan: ya sudah, skip saja tur ini. Bahkan sempat kepikiran, mungkin sudah waktunya move on dari Ghost.
Lalu mereka rilis single “Umbra.”
Video musiknya? Masterpiece. Mahakarya!
Sejak itu gue dengerin Skeletá dari awal lagi. Berulangkali. Gue nonton ulang Rite Here Rite Now dari Apple TV. Gue mulai cari footage tur terbaru di YouTube.
Ketemu beberapa. Satu kata: GLORIOUS.
Terus gak sengaja gue juga baca berita kalau tur ini tidak mampir ke Amerika Selatan, Jepang, atau Australia seperti tur sebelumnya. Dan Tobias berencana untuk mengistirahatkan Ghost untuk mencari inspirasi.
Waduh!
Artinya? Gawat. Ini bisa jadi kesempatan terakhir dalam waktu dekat buat nonton mereka live.
Berarti gue nonton. Titik.
⸻
Untungnya ketika gue sadar, dan ngecek ticketing website, ada dua jadwal area LA:
Honda Center dan
Intuit Dome.
Gue pilih Intuit Dome di Inglewood. Tiketnya sedikit lebih murah, dan dengan harga yang sama dengan tiket di Honda Center, gue sudah dapat tiket parkir.
Ya udah. Langsung beli.
⸻
Hari H.
Gue datang lebih awal untuk cari panitia agar bisa menjelaskan soal kebutuhan medis gue. Mereka izinkan handphone gue tetap bisa diakses, tapi kalau mau buka kunci pouch-nya harus keluar area konser dulu. Fair. Masuk akal. Gue oke.
Soal parkir? Gue jera beli dari StubHub. Spot yang sama ternyata dijual ke beberapa orang. Brengsek. Petugas di lokasi ngasih spot, tapi minta gue bayar $30 cash. Entah dia yang scamming, atau sistemnya yang kacau. Yang jelas, pelajaran mahal. Ya sudah lah, gue gak mau ambil pusing. Gak ada waktu. Gue mau nonton Ghost!
Masuk ke Intuit Dome, gue langsung terdiam. Anjir baru sadar itu venue gede banget. Spanduk Ghost tergantung mengelilingi arena juga gedeeeeee banget.
Gue teringat kembali tahun 2013 di Download Festival, waktu mereka masih main di second stage. Sudah punya fanbase, tapi masih niche banget. Sekarang? Manggung sekelas dome (biasanya gedung olah raga untuk pertandingan basket, hockey, dsb dengan kapasitas 10.000-15.000 penonton) di Amerika. Intuit Dome itu sendiri markasnya klub basket LA Clippers
Gue merasa beruntung bisa menyaksikan evolusi band ini. Well deserved!
The Show
Posisi duduk gue di sisi kiri panggung. Dari sana gue bisa lihat keseluruhan isi dome tanpa banyak menoleh. Dan ternyata itu jadi salah satu highlight malam itu: gue bisa lihat semua orang.
Tirai turun setelah “Peacefield.” Stage kebuka total.
Di momen itu gue sadar: posisi ideal memang tetap di tengah, sejajar dengan FOH dan PA. Itu sebabnya mixer selalu ditempatkan di sana. Dari samping, visual masih oke, tapi sonic sweet spot tetap di tengah. Can’t beat that!
Beberapa lagu pertama terdengar agak flat. Mungkin karena lokasi gue duduk juga. Tapi lama-lama detailnya keluar. Layering produksi, harmoni para Ghoulettes, dinamika yang presisi seiring dengan performa yang kausal.
Lighting? Presisi. Pas!
Stage presence? Dari detik pertama sudah level arena headliner. Pas!
Di satu momen, gue berhenti lihat panggung dan mulai lihat penonton. Belum pernah gue lihat crowd se-present itu. Tidak ada layar handphone menyala. Tidak ada orang sibuk ngerekam. Semua benar-benar “berada” di sana.
Di situ gue mulai ngerti apa yang Tobias lakukan. No phone policy itu bukan sekedar soal kontrol. Tapi soal fokus.
Pengalaman tanpa ponsel pertama gue sebenarnya pas nonton Tool di San Jose tahun 2019. Tapi malam ini rasanya beda.
Setlist-nya juga menarik. Lebih banyak lagu klasik dari yang gue perkirakan.
“Rats.”
“Cirice.”
“Year Zero.”
“He Is.”
“Kiss the Go-Goat.”
“Mummy Dust.”
“Mary on a Cross.”
“Dance Macabre.”
“Square Hammer.”
Lagu-lagu baru seperti “Peacefield,” “Satanized,” “Lachryma,” dan “Umbra” dapat sambutan paling heboh. Karena sebagian besar penonton baru dengar pertama kali lagu-lagu tersebut dibawakan live.
Gue tidak keluar sekalipun dari arena konser untuk ngecek kadar gula darah di handphone. Kayak ada lem yang menempelkan pantat gue ke kursi. Gue sampai makan permen ekstra supaya gula darah nggak drop. Gue skip obat diuretik malam itu supaya nggak perlu ke toilet. Hitungannya pengorbanan lah!
Gue nggak mau ketinggalan momen sedikit pun.
Dan gue memang nggak ketinggalan apa pun.
Ini salah satu konser terbaik yang pernah gue hadiri. Mungkin masuk tiga besar.
Kalau disimak, foto-foto dari fotografer tur mereka Ryan Chang bisa menunjukkan betapa megah produksinya. Tapi yang tidak bisa ditangkap kamera adalah aura panggung mereka. Ini tidak tergantikan dan tidak bisa diwakilkan dengan melihat foto (dan video) di internet
Gue sudah nonton banyak konser rock. Tapi anjing lah, ini beda.
Mereka musisi yang sangat nyaman dengan instrumen masing-masing. Dan kelihatan benar-benar menikmati malam itu. Sama seperti penonton.
Di akhir show, Tobias memperkenalkan Nameless Ghouls dengan nama asli mereka. Gak biasa banget. Dari forum-forum fanclubs, tampaknya ini baru pertama kali terjadi.
Di atas kertas mungkin mereka, Nameless Ghouls, terlihat interchangeable. Tapi kalau lo nonton langsung, lo tahu setiap orang di panggung itu punya peran unik yang tidak bisa sembarang diganti. Swiss Ghoul misalnya, buat gue, dia gak tergantikan.
Bersama-sama, mereka membangun, mungkin, salah satu tur rock paling solid di Amerika saat ini.
Gue juga tahu Ghost akan hiatus.
Lucunya yang paling bakal gue kangenin justru para Nameless Ghouls. Karena mungkin ketika Tobias memutuskan untuk melanjutkan Ghost nanti, mereka sudah move-on dan punya projek masing-masing.
So long Nameless Ghouls!







