Berewok yang Berguna

Yang kenal gue sejak dulu mungkin memperhatikan bahwa gue kadang berewokan, kadang nggak. Iya, musiman. Biasanya ini siklus dua-tiga tahunan.
Terakhir gue berewokan di Amerika pas jaman COVID. Jadi waktu itu gue gak shaving selama beberapa minggu karena gak pergi kerja. Sampai akhirnya gue pelihara berewok beberapa bulan.
Kali ini juga kejadiannya mirip begitu. Gue dikasih ijin untuk WFH (Work From Home) oleh Meta, tempat gue kerja (Perusahaan pemilik Facebook, Whatsapp, Instagram dsb). jadi gue gak shaving beberapa minggu. Setelah tumbuh, gue perhatikan berewoknya putih semua. “Oh hmmm… baru nih”, gue pikir. Ya udah gue biarin aja tumbuh.
Ternyata gue menemukan keuntungan dengan penampilan baru ini. Di sini orang berewokan itu lumrah. Jadi gue seperti orang kebanyakan. Tampak seperti orang kebanyakan itu ternyata juga membuat gue lebih mudah berinteraksi dengan orang sini. Keuntungan yang tadinya gue gak tahu. Jadi ya sudah, gue biarin aja berewok tumbuh. Culture
Cultural assimilation 101. Using something that makes you seem less like a foreigner opens up a lot of opportunities.



